Gejala Mata SePeLe yang Hampir Menghambat Perjalananku Mengejar Mimpi di Perempuan Inovasi 2026

Gejala Mata SePeLe yang Hampir Menghambat Perjalananku Mengejar Mimpi di Perempuan Inovasi 2026




Kesibukan menjalani berbagai peran sebagai ibu, freelancer, dan pejuang mimpi membuat saya menyadari bahwa kesehatan mata tidak boleh dianggap sepele.


Pernahkah mata terasa perih, cepat lelah, atau sering berair saat bekerja di depan komputer? Saya menganggapnya sebagai hal biasa. Sampai akhirnya saya sadar bahwa gejala kecil itu hampir menghambat perjalanan saya mengejar mimpi. 

Menjadi seorang perempuan sering kali berarti menjalankan banyak peran dalam satu waktu. Saya adalah seorang ibu, seorang freelancer yang bekerja dari rumah, sekaligus seseorang yang terus berusaha mengembangkan diri melalui berbagai kompetisi. 

Salah satunya adalah perjalanan mengikuti Perempuan Inovasi 2026 hingga berhasil melangkah ke tahap akhir. Namun di tengah semangat mengejar mimpi, ada satu hal yang hampir saya abaikan: kesehatan mata.


Rutinitas pagi sebagai ibu menjadi awal dari aktivitas yang padat sepanjang hari.




Kesibukan Sehari-hari


Setiap hari saya memulai aktivitas sebelum matahari benar-benar terbit. Hal pertama yang saya lakukan adalah menyiapkan kebutuhan anak sekolah. Mulai dari membangunkan anak, menyiapkan seragam, mengisi botol minum, hingga menata bekal yang sudah saya rencanakan sejak malam sebelumnya. 

Menu-menu bekal telah di tentukan. Setelah memastikan semua perlengkapan sekolah masuk ke dalam tas, saya masih harus mengantar anak bersiap berangkat dengan senyum agar ia bersemangat menjalani hari.

Begitu anak berangkat ke sekolah, saya tidak langsung beristirahat. Saya segera membuka laptop untuk mengejar berbagai pekerjaan yang sudah menunggu, mulai dari menulis artikel, membalas email, melakukan riset, hingga mengikuti rapat daring. 

Saat sedang mempersiapkan materi dan revisi untuk Perempuan Inovasi 2026, waktu di depan layar terasa berjalan begitu cepat. Tanpa sadar, berjam-jam saya menatap monitor dengan intensitas tinggi.
Di tengah kesibukan itu, mata saya mulai terasa sepet, perih, dan cepat lelah. Awalnya saya menganggapnya sebagai hal yang wajar karena kurang tidur atau terlalu banyak pekerjaan. 

Saya memilih untuk terus melanjutkan aktivitas, padahal rasa tidak nyaman itu semakin mengganggu konsentrasi. Dari situlah saya mulai menyadari bahwa gejala yang terlihat sepele ternyata tidak boleh disepelekan.





Awalnya saya mengira rasa sepet, perih, dan mata yang cepat lelah hanyalah akibat kurang tidur. Saya memilih terus bekerja karena merasa masih banyak yang harus diselesaikan.


Titik Balik

Saat persiapan kompetisi semakin intens.

Salah satu momen yang paling berkesan adalah saat mengikuti sesi Zoom Perempuan Inovasi. Di sana saya mendapatkan wawasan baru tentang pemanfaatan teknologi dan AI, sekaligus mendengar pengalaman para mentor dan peserta lain. Sesi ini membuat saya semakin yakin bahwa inovasi dapat dimulai dari langkah-langkah kecil yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Selama sesi berlangsung, saya mencatat berbagai ide yang kemudian saya coba terapkan, mulai dari membuat konten yang lebih terstruktur hingga memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas tanpa mengurangi sentuhan pribadi dalam setiap karya.

Menjelang batas pengumpulan tugas dan proposal di skillvul, saya menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar komputer. Saat itu saya mulai menyadari mata terasa tidak nyaman. 

Tulisan di layar mulai sulit difokuskan, mata terasa berat, bahkan membuat konsentrasi menurun gejala tersebut dapat menjadi tanda mata kering dan tidak sebaiknya diabaikan.

Saya akhirnya mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi pada mata saya....

Apa Itu Mata Kering?

Di tengah kesibukan menjalani berbagai peran sebagai freelancer sekaligus seseorang yang aktif mengikuti berbagai kompetisi, saya baru menyadari bahwa rasa mata sepet, perih, dan cepat lelah bukanlah kondisi yang boleh dianggap biasa. 

Gejala tersebut dapat menjadi tanda mata kering (Dry Eye Disease), yaitu kondisi ketika mata tidak menghasilkan air mata yang cukup atau kualitas air mata tidak mampu menjaga kelembapan permukaan mata secara optimal.

Menurut Tear Film & Ocular Surface Society Dry Eye Workshop II (TFOS DEWS II), mata kering merupakan penyakit multifaktorial pada permukaan mata yang ditandai dengan hilangnya keseimbangan lapisan air mata, sehingga menimbulkan berbagai keluhan seperti mata terasa kering, perih, sepet, cepat lelah, hingga penglihatan menjadi kabur sesaat.




Apa Penyebab Mata Kering?

Mata kering dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah berkurangnya produksi air mata akibat pertambahan usia atau kondisi kesehatan tertentu. Selain itu, penguapan air mata yang terlalu cepat juga menjadi penyebab yang paling sering terjadi, terutama ketika seseorang terlalu lama menatap layar komputer atau ponsel. 

Faktor lingkungan seperti ruangan ber-AC, paparan angin, debu, penggunaan lensa kontak, kurang tidur, serta kebiasaan jarang berkedip juga dapat memperburuk kondisi mata kering. TFOS DEWS II menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang memengaruhi kestabilan lapisan air mata dan kesehatan permukaan mata.


Mengapa Pekerja Digital Lebih Berisiko?


Bagi pekerja digital, penggunaan laptop, komputer, atau gawai merupakan bagian dari rutinitas sehari-hari. Namun, tanpa disadari, aktivitas tersebut dapat meningkatkan risiko mata kering. Saat fokus menatap layar, frekuensi berkedip cenderung menurun, bahkan banyak kedipan yang tidak sempurna. 

Akibatnya, air mata lebih cepat menguap sehingga permukaan mata menjadi kering. Penelitian dalam TFOS DEWS II Epidemiology Report menunjukkan bahwa penggunaan perangkat digital dalam waktu lama merupakan salah satu faktor risiko penting terjadinya mata kering. 

Tidak heran jika banyak pekerja kantoran, freelancer, content creator, maupun blogger sering mengeluhkan mata terasa sepet, perih, dan cepat lelah setelah bekerja berjam-jam di depan layar.




Mengapa Perempuan Lebih Rentan?


Perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami mata kering dibandingkan laki-laki. Menurut TFOS DEWS II Sex, Gender, and Hormones Report, perubahan hormon berperan penting dalam memengaruhi produksi dan kualitas air mata. 

Perubahan hormon yang terjadi selama kehamilan, menyusui, penggunaan kontrasepsi hormonal, maupun menjelang menopause dapat meningkatkan risiko munculnya gejala mata kering. Selain faktor hormonal, perempuan juga sering menjalankan banyak peran sekaligus, seperti bekerja, mengurus keluarga, dan mendampingi anak, sehingga waktu istirahat menjadi lebih terbatas. 

Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat perempuan lebih rentan mengalami keluhan mata kering.


Dampak Mata Kering terhadap Produktivitas


Meskipun sering dianggap sebagai keluhan ringan, mata kering dapat memberikan dampak yang cukup besar terhadap produktivitas. Mata yang terasa sepet, perih, atau cepat lelah membuat seseorang sulit berkonsentrasi saat bekerja maupun belajar. 

Dalam beberapa kasus, mata kering juga dapat menyebabkan penglihatan kabur sementara, sehingga aktivitas yang membutuhkan fokus tinggi menjadi terganggu. TFOS DEWS II Epidemiology Report menyebutkan bahwa mata kering berhubungan dengan penurunan kualitas hidup, berkurangnya produktivitas kerja, serta meningkatnya ketidaknyamanan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. 

Oleh karena itu, mengenali gejalanya sejak dini dan menjaga kesehatan mata merupakan langkah penting agar kita tetap nyaman, fokus, dan produktif dalam menjalani berbagai peran setiap hari.


Cara Saya Menjaga Mata

Sebagai ibu sekaligus pekerja digital, saya menghabiskan banyak waktu di depan layar laptop dan ponsel. Mulai dari menyelesaikan pekerjaan, membalas pesan, membuat konten, hingga menemani anak belajar. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut membuat mata sering terasa lelah, perih, bahkan sesekali disertai sakit kepala.

Awalnya saya menganggap kondisi ini sebagai hal yang wajar. Namun, ketika mata mulai terasa kering hampir setiap hari, saya menyadari bahwa kesehatan mata perlu menjadi prioritas. Saya kemudian mulai menerapkan beberapa kebiasaan sederhana yang ternyata memberikan perubahan yang cukup signifikan.

Berikut lima kebiasaan yang saya lakukan untuk menjaga kesehatan mata.





1. Menggunakan aturan 20-20-20

Kebiasaan pertama yang saya lakukan adalah menerapkan aturan 20-20-20. Setiap 20 menit bekerja di depan layar, saya mengalihkan pandangan ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik.

Cara sederhana ini membantu mata beristirahat sehingga ketegangan akibat menatap layar terus-menerus dapat berkurang. Saya biasanya memasang pengingat di ponsel agar tidak lupa melakukannya.

  1. Lebih sering berkedip saat bekerja.
  2. Mengatur pencahayaan ruangan.
  3. Mengurangi screen time yang tidak perlu.
  4. Memberikan jeda istirahat pada mata.
  5. Menggunakan tetes mata sesuai petunjuk penggunaan ketika diperlukan.


2. Mencukupi Kebutuhan Air Putih

Mata yang terasa kering ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh penggunaan layar, tetapi juga karena tubuh kurang terhidrasi.

Oleh karena itu, saya membiasakan diri minum air putih secara rutin sepanjang hari. Saya selalu menyediakan botol minum di meja kerja agar lebih mudah mengingat untuk minum. Tubuh yang terhidrasi dengan baik membantu menjaga kelembapan mata dan membuat tubuh tetap segar saat bekerja.

3. Menjaga Kelembapan Ruangan

Ruangan ber-AC atau sirkulasi udara yang terlalu kering dapat memperparah gejala mata kering. Untuk mengatasinya, saya menggunakan humidifier pada waktu-waktu tertentu, terutama saat bekerja dalam waktu yang lama.

Selain itu, saya juga sesekali membuka jendela agar udara segar masuk ke dalam ruangan. Cara ini membuat suasana bekerja terasa lebih nyaman sekaligus membantu menjaga kelembapan mata.

4. Mengonsumsi Makanan yang Baik untuk Mata

Menjaga kesehatan mata juga dimulai dari makanan yang kita konsumsi. Saya mulai memperbanyak makanan yang kaya vitamin A, vitamin C, vitamin E, lutein, dan omega-3, seperti: Wortel, Bayam, Ikan salmon, Telur, Jeruk. Mengonsumsi makanan bergizi secara rutin membantu memenuhi kebutuhan nutrisi mata sehingga penglihatan tetap terjaga.

5. Istirahat yang Cukup

Kesibukan sering membuat saya tidur larut malam. Padahal, kurang tidur membuat mata terasa lebih berat, merah, dan sulit fokus keesokan harinya.

Kini saya berusaha tidur sekitar 7–8 jam setiap malam. Jika sedang bekerja cukup lama, saya juga menyempatkan diri berdiri, berjalan sebentar, atau melakukan peregangan ringan agar tubuh dan mata sama-sama mendapatkan waktu untuk beristirahat.





Perjalanan menuju tahap akhir Perempuan Inovasi 2026 mengajarkan saya banyak hal. Bukan hanya tentang inovasi, tetapi juga tentang pentingnya menjaga diri sendiri. 

Sebab, mimpi yang besar membutuhkan tubuh yang sehat untuk mewujudkannya. Jangan sampai gejala mata yang terlihat sepele justru menjadi penghalang langkah kita untuk terus berkarya.




Referensi

  1. Craig JP, et al. TFOS DEWS II Definition and Classification Report. Ocular Surface. 2017. https://tfosdewsreport.org/
  2. Stapleton F, et al. TFOS DEWS II Epidemiology Report. Ocular Surface. 2017. https://www.tfosdewsreport.org/report-epidemiology_report/71_36/en/
  3. Sullivan DA, et al. TFOS DEWS II Sex, Gender, and Hormones Report. Ocular Surface. 2017. https://www.tfosdewsreport.org/report-sex_gender_hormone/61_36/en/


Posting Komentar

0 Komentar